Thursday, August 10, 2006

Sekrup Abu-Abu Kecil

Di suatu negeri yang jauh dari dunia manusia, hiduplah sekelompok sekrup dan mur.
Satu keluarga di antaranya adalah keluarga sekrup dan mur abu-abu.

Suatu hari sekrup abu-abu besar memanggil anaknya si sekrup abu-abu kecil
Sekrup abu-abu besar berkata,”
”Nak, kamu sudah besar. Sudah waktunya engkau mencari mur untuk dinikahi”
“Menikah itu apa ya pak?” tanya si sekrup abu-abu kecil.

Sekrup abu-abu besar mendesah dan berkata,” Begini nak, menikah artinya mencari pasangan hidupmu dan berkeluarga dengannya.” Hidup ini tidak mungkin sendirian. Sepasang sekrup dan mur akan hidup sebagai satu tim. Yang satu menutupi kelemahan yang lain dan memecahkan masalah hidup bersama-sama.

Tapi bagaimana caranya mencari pasangan hidup, pak? Itu seperti berjudi!
Sekrup Abu-abu kecil kebingungan.
Ayahnya menjawab,”
Begini nak! Memang itu seperti berjudi. Tetapi cara yang paling umum adalah carilah mur yang ukurannya tepat dengan ulirmu.
Sang anak bertanya lagi,”Tapi mengapa ukurannya harus tepat pak?”

Ayahnya menjawab,”Karena kalau ukuran mur yang kaunikahi terlalu kecil maka kalian berdua akan kesakitan.” ”Sebaliknya jika ukuran si mur terlalu longgar, dan manusia menggunakan kalian berdua untuk memasang suatu papan, hubungan kalian berdua akan mudah lepas.” Saat salah satu dari kalian lepas dari yang lain, salah satu akan jatuh ke lantai dan mengerang kesakitan.

Sekrup abu-abu kecil tidak perlu bertanya dua kali. Dia segera berlari meninggalkan ayahnya. Dia pun mencari mur kuningan yang selama ini selalu disukainya. Saat bertemu dengan mur kuningan, sekrup abu-abu kecil bertanya,”Wahai mur kuningan, bolehkan aku memasukkan ulirku ke dalam lubangmu.” Sang mur kuningan tidak paham maksud sekrup abu-abu kecil. Dia hanya mengikuti saja permintaan tersebut. Saat sekrup abu-abu kecil memasukkan ulirnya, sang sekrup abu-abu kecil girang bukan kepalang. Dia menemukan bahwa ukuran ulirnya cocok dengan ukuran mur kuningan, tidak lebih dan tidak kurang. Sang sekrup abu-abu kecil hendak berlari untuk memberitahukan hal tersebut kepada kedua orang tuanya.

Belum sempat sekrup abu-abu kecil beranjak.
Datanglah sekelompok mur.
Ada mur perak, mur tembaga, mur abu-abu dan mur-mur yang lain.
Mereka tampak gembira dan tersenyum-senyum
Mur perak berkata,”Hai mur kuningan, tahukah apa yang baru saja kami lihat.”
”Hari ini sekrup emas baru saja pulang dari kota!”
Mur kuningan terperangah tak percaya,”Apa?? Sekrup Emas yang tampan itu? Aduh dia tampan sekali. Andaikan aku bisa menikah dengannya. Dia sangat tampan dan menyilaukan mata!!

Mendengar itu, sang sekrup abu-abu kecil terdiam. Hatinya merasa kecut dan kecut. Dengan langkah gontai dia meninggalkan mur-mur yang sedang sibuk membicarakan ketampanan sekrup emas.

Sang sekrup abu-abu kecil merasa lemas sekujur tubuhnya. Dia seperti tak sanggup lagi berjalan ke rumah. Matanya kosong. Dia pun berbelok ke arah sebuah kolam dan ingin merenung seharian di sana.

Saat si sekrup abu-abu kecil sedang merenung di sebuah kolam, datanglah seekor katak. Katak itu heran melihat si sekrup abu-abu kecil yang tampak sedih.
Katak bertanya,”Wahai sekrup abu-abu kecil. Ada apa gerangan? Mengapa wajahmu tampak kecut seperti sebuah tomat?”
Sang sekrup abu-abu kecil merasa jengkel atas gangguan si katak tersebut.
”Dasar katak tolol!” Bagaimana mungkin engkau menggunakan kata kecut untuk indera mata. ”Hari ini ayahku menyuruhku untuk mencari mur yang ukurannya cocok denganku untuk kujadikan teman hidup. Aku mencobanya pada mur kuningan dan ternyata ukuran ulir kami berdua cocok. Tetapi tampaknya mur kuningan tidak menyukaiku. Dia lebih tertarik pada sekrup emas yang tampan dan menyilaukan mata.

Katak menjawab,”Oh itu.” “Wahai, sekrup abu-abu kecil.” “Dengarkanlah nasehatku ini!

Ada gelap karena ada terang.
Ada yang miskin maka ada yang kaya.
Ada yang tampan dan ada yang buruk rupa.
Ada yang pandai dan ada pula yang tidak.
Semua diciptakan untuk keseimbangan.

Si sekrup abu-abu kecil kebingungan
“Apa maksudmu?”

Katak menjawab,”Ah dasar, ternyata engkau ini tidak sepandai yang kukira.”
“Begini.” Intinya adalah semua ada untuk keseimbangan.
Ada yang tampan karena ada yang buruk rupa.
Ada murid yang pandai karena ada yang tidak pandai.
Seorang guru tidak dapat membedakan mana murid yang pandai kalau tidak ada murid yang kurang pandai.
Sebuah mur tidak dapat mengenali mana sekrup yang tampan kalau tidak ada sekrup yang buruk rupa.

Sang sekrup abu-abu kecil bertanya,”Bukanlah itu lebih baik.” Tidak akan ada sekrup yang rendah diri hanya karena melihat sekrup lain lebih tampan dan tidak akan ada sekrup yang pandai yang merendahkan sekrup yang bodoh.

Katak menjawab,”Sebenarnya, sekrup yang pandai diciptakan tidaklah untuk menginjak sekrup yang bodoh.” Sekrup yang pandai mestinya membagi kepintarannya untuk membantu temannya yang kurang pandai. Pasti ada suatu kemampuan yang tidak dimiliki oleh sekrup yang pandai tersebut. Nah di sini, sekrup yang memiliki kemampuan tersebut dapat menolong si sekrup yang pandai.

“Lalu apa hubungannya dengan masalahku?” tanya si sekrup abu-abu kecil.
Sang katak menjawab,”Begini nak, menikmati tidaklah harus memegang.” Andaikan ada seorang manusia yang memiliki ikan, dia tidak akan terus-menerus memegang ikan tersebut karena ikan itu akan mati karenanya. Manusia akan memilih untuk meletakkan ikan tersebut dalam akuarium dan melihatnya dari kejauhan.

Sang katak pun meninggalkan si sekrup abu-abu kecil yang masih berpikir keras. Tiba-tiba terlintas suatu pikiran di benak si sekrup abu-abu kecil. Si sekrup abu-abu kecil pun berlari meninggalkan kolam. Dia mencari sekrup emas yang ukurannya sama persis dengan ulirnya. Kemudian dia mengenalkan sekrup emas tersebut kepada mur kuningan yang disukainya. Ternyata, mur kuningan dan sekrup emas itu saling jatuh cinta dan memutuskan untuk menikah.

Saat pernikahan sekrup emas dengan mur kuningan, si sekrup abu-abu kecil hanya melihat dari kejauhan. “Menikmati tidak harus memegang.” Mungkin ini yang dimaksud oleh katak. Sang sekrup abu-abu kecil menatap dengan kosong, perasaannya datar. Dia pun meninggalkan pesta pernikahan itu dengan wajah dingin. Sang katak diam-diam melihat semua itu dari kejauhan. Dia berkata dalam hatinya,”Hidup harus jalan terus teman! Engkau barulah memenangkan sebuah pertarungan. Masih banyak palung yang belum terselami. Suatu saat akan ada hari di mana engkau akan mengerti semua ini.”

0 Comments:

Post a Comment

<< Home