Wednesday, July 31, 2024

ARTI SEBUAH KATA TEMAN

Originally Created: February 2005
Modified: May 2024

Dahulu di suatu malam, 
Dari teman wanita, seorang pria mendapat sebuah pesan
“Sulit mencari seribu teman dalam setahun”
“Namun lebih sulit mencari teman yang menemanimu ribuan tahun”

Sang pria termenung seorang diri.
Menit demi Menit 
Hari demi Hari
Hingga akhirnya Sang Pria menulis pada kertas secarik

“Sulit mencari seribu teman dalam setahun”
Itu benar!
“Namun lebih sulit mencari teman yang menemanimu ribuan tahun”
Itu masih benar!
Akan tetapi
Keduanya bukan yang tersukar!
Karena yang tersulit adalah sekedar menjadi teman yang baik bagi temanmu
Untuk bertahun-tahun, untuk setahun, atau bahkan untuk seumur jagung

Mengapa demikian?
Karena terkadang, saat engkau buat temanmu kecewa
Ribuan kata maaf barangkali takkan cukup untuk menebusnya
Teman bukan hanya untuk makan bersama
Atau sekadar untuk merokok bersama
Tidak sekadar berikan pelukan
Atau sediakan pundak untuk tangis sesenggukan

Saat kau sebut dirimu teman
Itu tak semudah berikan hadiah di hari penuh makna
Tak semudah angkatkan barang bagi dia yang akan berpergian
Dan tak sekadar dengarkan pedihnya kisah temanmu dan berikan masukan

Saat kau sebut dirimu teman
Engkau harus bertengkar dan bertengkar dengannya
Saat kau sebut dirimu teman
Engkau mungkin harus kehilangan kesempatan 
Saat kau sebut dirimu teman
Barangkali engkau harus kehilangan pekerjaan
Dan saat kau sebut dirimu teman
Jangan pernah jatuh cinta kepadanya

Sebagai seorang teman,
Engkau harus sampaikan kebenaran
Seberapa pahitnya kebenaran itu
Toh engkau harus pastikan
Bahwa temanmu mendapatkan kebenaran itu 
Tanpa merasakan pahitnya

Tentang teman aku belajar dari seorang Karna
Yang berkorban nyawa di Medan Perang Kurusetra
Demi sahabatnya Duryudana

Dalam pertemanan ada empat tahapan
Yang pertama adalah perkenalan
Kedua adalah persahabatan
Ketiga adalah perselisihan
Dan yang terakhir, semoga tidak, adalah kerelaan 
Untuk melepaskan dia dari ikatan teman

Teman dan sahabat datang dan pergi
Layaknya awal dan akhir Musim Semi
Namun pelajaran berharga akan terus dibawa
TEMAN
Tidaklah semudah menuliskan KATA TEMAN itu sendiri!

Saturday, May 02, 2009

KAPAL KERTAS

Sebuah Kapal Kertas berlayar di tepi telaga
Tatkala seorang anak kecil larut dalam sebuah lamunan
Terkejut Sang Anak melihat si kapal
Dipungut dan dibukanya si kapal kertas

Sang Anak terhenyak tatkala melihat tulisan-tulisan :

Wanita Berwajah Boneka
Terdiam diriku dalam sebuah lamunan.
Sorot mata coklatmu membuatku berpikir tentang sebuah impian.
Namun saat sorot lembutmu itu datang
Detik itu juga harus kuhentikan diriku dalam berangan-angan

Wanita berwajah Boneka
Sulit rasanya berjuang menembus semua mimpi berbahaya
Senyum ramahmu membenamkanku dalam ketermenungan panjang
Saat berbicara engkau menatap datar-datar
Layaknya sebuah boneka yang tidak menyadari telah terjadi apa-apa

Wanita berwajah Boneka
Kupupuk keterampilanku bersandiwara
Ibarat menumpuk batu bata demi sebuah benteng yang menutupi semuanya
Mengingatkanku pada cerita musafir di sebuah padang
Berjuang berjalan entah kemana dan entah sampai kapan

Wanita berwajah Boneka
Kebanyakan orang mungkin akan berbicara
Tetapi aku sudah belajar dan belajar
Tentang nasehat kawan dari seberang
Terkadang tidak melakukan apapun justru melakukan semuanya

Namun hatiku yang tidak mau mengerti diriku selalu berontak
Membuatku menulis di sebuah kapal kertas
Hatiku berkata
Kalau aku menuliskannya pada sebuah kapal kertas
Kelak telaga di depan akan mengantarkan kapal kertas itu kepada Wanita Berwajah Boneka Semoga Wanita Berwajah Boneka itu mau mengerti isinya
Tanpa salah mengartikan maksudnya

Sang anak terdiam mencoba mengerti isi seluruh tulisan
Tatkala seorang teman memanggilnya untuk bermain layang-layang
"Sebentar" ujar sang anak sambil melipat surat itu menjadi sebuah kapal terbang
Sang anak mengambil layang-layang dari tangan temannya
Seutas benang dipakainya untuk mengaitkan si pesawat di ekor layang-layang
Tak lama kemudian layang-layang itu terbang
Si pesawat pun menemani sambil menempel di ekornya
Saat layang-layang itu putus
Keduanya seolah terbang mencari kebebasan
Dan kapal kertas pun takkan pernah sampai di tangan Wanita Berwajah Boneka.

Thursday, August 10, 2006

Sang Kapten (1) : Arti Sebuah Pengertian

Alkisah di suatu kota, seorang anak kecil terdiam menatap teman-temannya yang sedang bermain bola di lapangan. Si anak kecil itu mengenakan sebuah ban kapten bola berwarna biru pada lengannya. Maklum, semenjak menonton Maradona dengan ban kapten biru di lengannya, anak kecil ini selalu bermimpi untuk menjadi seorang kapten tim kelak di kemudian hari. Sang Kapten, begitu ayahnya memanggilnya dan teman-temannya mengolok-oloknya, hari ini tidak ikut bermain bersama teman-temannya yang sedang bertanding melawan SD dari kampung seberang. Seminggu yang lalu, Sang Kapten gagal mengeksekusi tendangan penalti. Teman-temannya marah besar kepadanya karena kegagalannya mengakibatkan timnya kalah. ”Kesabaran kami sudah habis, Kapten!” kata seorang temannya. ”Engkau sebenarnya sama sekali tidak bisa menendang bola.” ”Kalaupun sekarang engkau bermain, itu hanyalah karena kami kasihan kepadamu.” celetuk yang lain. Sang Kapten tertunduk sedih. Hatinya seperti tersayat-sayat. Tanpa sadar, air mata mulai membasahi pipinya. Bukan kali itu saja, dia membuat timnya kalah. Sebulan yang lalu ketika kelasnya bertanding melawan anak-anak SMP dari kampung di mana mereka tinggal, Sang Kapten gagal membuat gol padahal dia tinggal mencocor bola ke gawang yang sudah kosong. Dua bulan sebelumnya, tacklenya mencederai pemain lawan sehingga pertandingan harus dihentikan karena anak yang cedera tersebut menangis keras-keras dan mengadu pada orang tuanya.
Sang Kapten tersadar dari lamunannya. Di sebelahnya duduk seorang anak lain. Yohan namanya. ”Aku tidak melihat kau datang.”sapa Sang Kapten. Yohan diam saja. Yohan adalah anak termurung plus paling aneh di kelas Sang Kapten. Anaknya jarang bergaul dan jarang berbicara kepada siapa pun kecuali kepada Sang Kapten. Yohan juga menjadi anak yang paling sering dihukum di kelas. Entah kenapa, selalu ada saja kesalahan yang dilakukannya. Hampir tiap minggu pasti ada kejadian Yohan menangis di depan kelas karena dihukum gurunya, entah karena lupa membawa buku, lupa membuat PR atau kesalahan yang lain. ”Kenapa Han? Murung aja dari tadi”Sang Kapten membuka pembicaraan. Yohan tersenyum,”Kamu juga murung, kayaknya kamu baru dikartu-merah ya?” ”Ah, enggak juga, pengin main bola aja sih, tetapi kayaknya memang aku tidak berbakat main bola.”jawab Kapten. ”Kapten, kapten, tidakkah kamu lihat bahwa nasibmu jauh lebih baik dari aku.” ”Mestinya kamu bersyukur.”jawab Yohan. ”Bersyukur??” Untuk apa? tanya Kapten lagi. ”Minimal kamu masih dapat ranking di kelas.”celetuk Yohan. ”Ah itu, beruntung saja sih. Mestinya kamu juga bisa Han, aku tahu kamu anak yang pintar juga. Setahuku IQmu tinggi juga. Tapi aku enggak tahu kenapa kamu kok selalu sial ya.” ”Untuk urusan main bola pun, kamu lebih jago mencetak gol daripada aku. Cuma saja teman-teman tidak begitu memperhatikan bakat kamu.” tambah Sang Kapten. ”Tetapi sepertinya teman-teman tidak pernah menaruh perhatian padaku.”jawab Yohan sedih. Sang Kapten terdiam. Dia tidak tahu harus berkata apa. Tetapi keesokan harinya, Sang Kapten dan Yohan berjanji bahwa mereka akan selalu belajar bermain bola bersama.
Dua tahun berlalu, kedua anak itu sudah duduk di bangku SMP. Meskipun demikian, Sang Kapten tidak sekelas lagi dengan Yohan. Mereka pun lebih jarang bertemu. Maklum SMP mereka agak jauh dari rumah dan begitu bel berbunyi mereka berdua tidak bisa saling menunggu karena harus lekas pulang ke rumah untuk bersiap berangkat lagi guna mengikuti kegiatan ekstra kurikuler. Suatu hari, ketika Sang Kapten sedang mengikuti kelas musik, dia berkenalan dengan Ridwan yang ternyata sekelas dengan Yohan. Sang Kapten menanyakan kabar Yohan. Terkejut hatinya ketika dia mendengar kata-kata Ridwan. Ridwan berkata dengan sinis,”Ah anak itu, dia anak paling bodoh di kelas dan dia sering dihukum guru.” ”Kemarin Guru Bahasa Inggris memaki-makinya karena dia selalu gagal menjawab pertanyaan.” ”Kata Guru Bahasa Inggris itu NEM SD-nya yang tinggi pasti hasil sulapan dan hasil sulapan itu yang membuat dia bisa diterima di SMP ini.” Hati Sang Kapten sangat geram. Dia memang tidak menyukai Guru Bahasa Inggris itu. Guru Bahasa Inggris itu kasar dan sering marah-marah. Setiap ada anak yang salah menjawab pertanyaan pasti anak tersebut akan habis dimaki-makinya. Sang Kapten sendiri pernah sekali salah menjawab soal dan tidak luput dari makian. Tetapi perkataan Ridwan membuat Sang Kapten semakin jengkel. Seperti teman-temannya di SD, teman-teman baru Yohan di SMP sepertinya kurang bisa memahami perilaku Yohan yang aneh. Di mata Sang Kapten, Yohan memang anak yang pemalu. Dia sulit sekali bergaul dengan orang baru. Saat di SD, Sang Kapten juga sama pemalunya dengan Yohan. Itulah yang menyebabkan keduanya cocok dan menjadi akrab. Tetapi Sang Kapten lebih beruntung. Suatu hari, secara mengejutkan, dia berhasil mendapat ranking kedua. Sebelum kejadian itu, Sang Kapten tidak pernah membuka buku dan tidak pernah serius mengerjakan soal ulangan maupun ujian. Tetapi karena kejadian yang aneh itu, Sang Kapten menjadi lebih percaya diri dan sejak itu dia mulai diperhitungkan oleh teman-temannya. Tetapi Yohan tidak seberuntung Sang Kapten. Yohan sebenarnya anak yang cerdas tetapi sepertinya dia tidak pernah menemukan harinya. Hari-hari terus berlalu dan sepertinya sekarang keadaan Yohan berada di ujung tanduk.
Suatu hari, Sang Kapten bertemu Yohan di depan gerbang sekolah. ”Halo Han, kapan nih kita main bola lagi.” Yohan terdiam sesaat lalu menjawab,”Wah gak tahu Kapten, ayahku tidak mungkin mengijinkan aku keluar sekarang.” ”Lho kenapa? ujar Sang Kapten bingung. ”Kemarin, orang-tuaku dipanggil wali kelas, katanya kemungkinan besar aku tidak akan naik kelas.” ”Hah”? Mulut Sang Kapten ternganga seperti tidak percaya. ”Ya, ulanganku dapat jelek terus. Aku sendiri bingung. Rasanya semua pelajaran itu tidak ada yang susah. Tetapi memang aku jarang belajar.”ujar Yohan. Sang Kapten tidak butuh penjelasan lebih lanjut. Apa yang didengarnya itu memang hampir membuat nafasnya terasa sesak. Tetapi Sang Kapten tahu siapa Yohan. Dia banyak membuang waktunya untuk melamun dan melamun. Entah apa yang dilamunkannya. Menurut Sang Kapten, Yohan sepertinya tertekan dalam kesendiriannya. Pernah suatu hari, saat mereka berdua duduk di kelas 6 SD, teman mereka menemukan puisi yang ditulis Yohan. Puisi itu tertinggal di atas meja dan berisi kekecewaan Yohan pada kondisi lingkungan sosial yang kurang mendukung dia. Teman mereka yang menemukan puisi itu mencibir Yohan. Menurut dia, itu salah Yohan sendiri yang kurang mau bergabung dengan teman-temannya. Tetapi Sang Kapten selalu membela Yohan. Mungkin karena Sang Kapten dulu merasa senasib dengan Yohan. Mereka berdua memang pernah sama-sama sulit bergaul dengan teman-temannya. Tiba-tiba Sang Kapten menyesal. Mestinya dia tidak terlalu melindungi Yohan. Perlindungan yang dia berikan justru membuat Yohan semakin nyaman dalam kesendiriannya dan tidak pernah mencoba untuk bergaul dengan temannya.
Setahun berlalu, Yohan akhirnya dua kali gagal naik kelas. Akhirnya Yohan terpaksa pindah ke SMP yang berbeda agar tetap bisa melanjutkan studinya. Sang Kapten sendiri tetap berusaha menjalin hubungan. Keduanya tetap bermain bola bersama. Akhir-akhir ini keduanya sering bermain bola dengan anak-anak lain di kampung mereka. Sang Kapten yang tidak terlalu berbakat mencetak gol memilih untuk bermain di tengah sedangkan Yohan lebih sering bermain sebagai penyerang. Karena sering berlatih bersama, Yohan dan Sang Kapten seperti sudah mengerti satu sama lain. Ke mana bola akan dioper oleh Sang Kapten, Yohan sudah bisa menebak. Dan ke mana Yohan akan bergerak, Sang Kapten sudah bisa membaca. Seiring dengan berjalannya waktu, kedua anak itu menjadi dua pemain yang makin disegani di lingkungan kampungnya. Mereka memberikan kontribusi yang cukup banyak bagi tim dan kerjasama mereka berdua sering menghasilkan banyak gol. Sayang, keberhasilan mereka berdua di lapangan bola tidak diikuti oleh keberhasilan Yohan di bidang akademik.
Tiga tahun berikutnya, keduanya masih sering bermain bola bersama. Di SMA, Sang Kapten berkenalan dengan teman barunya, Arief namanya. Seperti Yohan, Arief adalah anak yang pendiam. Dia juga lihai bermain bola karena tubuhnya yang kecil memungkinkan dia bergerak dengan lincah. Di SMA, Arief adalah anak yang lumayan pintar. Tetapi sayang, dia bukanlah anak yang berasal dari kalangan yang mampu. Beberapa bulan lagi, Sang Kapten, Arief dan teman-teman SMA yang lain akan menempuh Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Tidak seperti teman-teman lainnya, Arief tidak bisa membeli buku-buku latihan soal Ujian. Akhirnya pun bisa ditebak, Arief gagal diterima di Perguruan Tinggi Negeri. Karena dana yang terbatas, Arief juga tidak bisa melanjutkan studinya ke Perguruan Tinggi yang lain. Akhirnya, terpaksa Arief harus mengubur impiannya belajar di PTN dan bekerja sebagai Tour Leader. Sejak berkenalan dengan Arief di SMA, Sang Kapten sering mengajak Arief bermain bola bersama di kampungnya. Bersama dengan Yohan, ketiganya menjadi trio pemain yang kompak dan disegani lawan. Ketiganya seolah-olah senasib di lapangan bola tetapi tidak demikiah halnya di dunia pendidikan. Sang Kapten jauh lebih beruntung karena dia bisa belajar di Perguruan Tinggi. Yohan berhenti studi semenjak lulus STM dan dia memilih bekerja di salah satu bengkel di kota.
Meskipun mendapat kesempatan belajar di Perguruan Tinggi, Sang Kapten tidak pernah melupakan mimpinya untuk menjadi pemain bola yang hebat. Pernah suatu hari, ayahnya yang selesai membaca koran memperlihatkan sebuah artikel yang mengisahkan kisah seorang pemain bola dunia yang terkenal. “Kapten, lihat apa yang dikatakan orang yang hebat ini!” “Katanya, jika engkau ingin menjadi pemain bola yang baik maka engkau harus menjadi orang yang baik.” Sang Kapten terdiam. Sejak itu kata-kata itu selalu diingatnya.
Suatu hari, seorang pria mendekati Kapten dan teman-temannya yang sedang bermain bola. Sang Kapten melihat ke arah pria yang mendekat itu dan menghentikan bola yang bergulir ke arah kakinya. Pria itu tersenyum,”Boleh aku tahu siapa anda?” ”Hmm, teman-temanku di sini sering memanggilku Kapten.” ”Ini Yohan dan ini Arief.” ujar Sang Kapten menunjuk ke arah kedua pemuda yang berdiri di dekatnya. Pria itu tersenyum lagi sambil berujar,”Namaku Robert, aku pencari pemain muda berbakat untuk klub di kota ini.” ”Sepertinya anda bertiga bermain cukup bagus.” ”Bisakah kalian bertiga besok datang ke kantor kami?” Ketiga pemuda di depannya saling berpandangan dan kemudian sama-sama mengangguk.
Beberapa bulan kemudian, Sang Kapten, Yohan dan Arief sudah bergabung dengan klub di kotanya. Mereka masih bermain di tim yunior tetapi mereka tetap gembira. Ketiganya selalu bekerja keras dan berlatih bersama. Saat pemain-pemain lainnya sudah selesai berlatih dan pulang ke rumah, ketiganya terus berdialog, berdiskusi dan memberikan masukan satu sama lain. Dari sini, Sang Kapten menyadari indahnya sebuah perbincangan. Yang satu berbicara dan yang lain mendengarkan. Sesaat dia tidak dapat mendengar apa yang didiskusikan Arief dan Yohan karena hanyut dalam lamunannya. Sang Kapten berandai-andai ada seseorang, seorang perempuan, yang mau dekat dengannya, bercerita kepadanya sehingga Sang Kapten bisa dengan puas mendengarkan perempuan itu berbicara walaupun berjam-jam lamanya. Sang Kapten tidak sadar bahwa suatu saat dia akan menemukan apa yang lebih indah dari sebuah perbincangan.
Waktu terus berlalu dan ketiga pemuda tersebut akhirnya menjadi pemain inti di klub kotanya. Saat itu ketiganya sudah berusia 23 tahun. Sang Kapten tidak menyangka bahwa akhirnya dia benar-benar menyandang ban kapten yang sesungguhnya di lengannya. Robert, pemandu bakat yang dulu menemukannya, kini telah menjadi pelatihnya dan Robert pula yang mempercayakan jabatan kapten padanya. Akhir-akhir ini prestasi klub Sang Kapten terus menanjak. Mereka berhasil masuk delapan besar dan akhirnya partai semifinal. Akhirnya partai semifinal yang ditunggu-tunggu itu datang. Saat itu kedudukan masih sama kuat 1-1. Yohan, yang akhir-akhir ini menjadi mesin gol di klubnya, berhasil menyumbangkan satu gol. Beberapa saat lagi pertandingan akan berakhir ketika tiba-tiba wasit meniup peluitnya. Sang Kapten tidak melihat persis kejadiannya, dia hanya melihat Arief terjatuh. Rupanya wasit melihat adanya pelanggaran terhadap Arief di kotak penalti. Pemain-pemain lawan nampaknya tidak puas dengan keputusan wasit. Mereka tampak bergerombol dan terus melancarkan protes. Tiba-tiba seorang pemain lawan mendekati Sang Kapten. Pemain tersebut berkata,”Engkau akan menendangnya bukan? Kalau engkau memang jantan kita main di perpanjangan waktu.” Sang Kapten terdiam. Sesuatu yang aneh menyelimuti pikirannya. Entah kenapa dia merasa bahwa pemain lawan tersebut mengatakan apa yang seharusnya dikatakan. Entah kenapa dia merasa bahwa wasit mengambil keputusan yang keliru. Ya keliru. Kalau tidak keliru lalu kenapa pemain-pemain lawan memprotesnya. Pikirannya terbang sesaat ke ayahnya. Ucapan sang ayah terdengar di telinganya,”Ingat, jika engkau ingin menjadi pemain bola yang baik maka engkau harus menjadi orang yang baik!”. Tepukan Yohan menyadarkan Sang Kapten dari lamunannya. ”Ayo Kapten, kamu harus bikin kita ke final! Kamu harus menendangnya! Dengan enggan, Sang Kapten beranjak. Dia meletakkan bola pada titik putih dan bersiap menendangnya. Mata penjaga gawang di depannya melihat tajam ke arahnya seolah-olah hendak mengatakan sesuatu kepadanya. Sang Kapten sudah terbiasa mengeksekusi penalti. Sejak gagal di SD, Sang Kapten memang selalu berlatih menendang penalti dan dia hampir selalu berhasil melakukannya. Meskipun demikian, dia belum pernah mengeksekusi penalti yang kontroversial. Tiba-tiba, suatu pikiran melintas di otaknya. Pikiran itu membuat dia untuk mengambil keputusan. Wasit meniup peluit dan Sang Kapten mulai melangkah ke arah bola. Bola yang ditendangnya ternyata melambung tinggi di atas gawang. Pendukung klub kota Sang Kapten berteriak kecewa. Arief, Yohan dan seluruh pemain serta official terbelalak tidak percaya. Sepertinya, Sang Kapten sengaja menendang bola itu keras-keras. Saat berbalik, Sang Kapten melihat kekecewaan di wajah rekan-rekannya. Saat yang bersamaan, wasit meniup peluit panjang tanda pertandingan harus dilanjutkan dengan perpanjangan waktu. ”Kenapa kau lakukan itu?”tanya si Arief. ”Entahlah, aku merasa bahwa keputusan wasit keliru.” jawab Sang Kapten. ”Apa?” Arief memandangnya terbelalak. ”Jadi engkau tidak percaya kalau aku memang ditackle?” ”Kalau memang engkau benar-benar ditackle, lalu mengapa mereka ngotot memprotesnya? tanya Sang Kapten. Arief terdiam tidak percaya. Ingin rasanya dia marah. Tetapi Arief bukanlah tipe pemuda yang suka meluapkan amarahnya. Dia tetap terdiam, wajahnya merah dan hatinya terasa hancur ketika temannya tidak lagi mempercayainya. Arief melangkah gontai ke pinggir lapangan. Saat itu, Robert berdiri memandang ke arahnya. Sepertinya, dia juga bersiap-siap menghardik Sang Kapten. Arief mendatangi Robert. Dia minta agar dia diganti karena dia sudah tidak sanggup lagi bermain. Sementara itu, Sang Kapten masih berdiri di tengah lapangan mendengarkan kemarahan rekan-rekannya. Dia berusaha menjelaskan tetapi sepertinya tidak ada yang mau mendengarkan penjelasannya. Sang Kapten terdiam. Hatinya menjadi bimbang. Dia ragu. ”Jangan-jangan aku yang salah.”pikirnya dalam hati. Tetapi Sang Kapten berusaha tetap tenang. Toh masih ada kesempatan untuk menang.
Pertandingan pun dilanjutkan tanpa Arief tentunya. Selama 30 menit, kedua tim gagal mencetak gol sehingga adu penalti harus dilakukan. Empat kali kesempatan, empat kali pula tendangan penalti berhasil dieksekusi oleh pemain dari kedua tim. Tiba saatnya tim lawan harus mengeksekusi tendangan penalti yang terakhir dan ternyata mereka berhasil melakukannya. Beban di pundak Sang Kapten menjadi terasa berat. Dia adalah eksekutor terakhir dari timnya. Jika gagal, punah pula harapan klubnya untuk melaju ke final. Sang Kapten berusaha untuk tetap tenang. Dia kembali melihat mata penjaga gawang yang setengah jam yang lalu telah dilihatnya. Penjaga gawang itu tampak tersenyum ke arah Sang Kapten. Sang Kapten tetap terdiam. Dia melangkah mundur dan wasit meniup peluit. Bola ditendangnya ke sudut kanan atas tetapi ah ....... ternyata bola itu membentur tiang gawang. Sang Kapten gagal. Kali ini kegagalannya bukan karena kesengajaan tetapi karena dia memang gagal. Lemas rasanya seluruh tubuhnya. Kepala Sang Kapten terasa pening dan dia tidak tahu harus kemana melangkahkan kakinya. Akhirnya dia memutuskan untuk berjalan ke arah ruang ganti. Sang Kapten terus berjalan dan berjalan melewati pemain-pemain lawan yang sedang berpelukan gembira merayakan kegagalannya mengeksekusi penalti. Robert mencoba mendekati Sang Kapten tetapi Sang Kapten malah melepas ban kapten dari lengannya dan melemparkannya ke tangan Robert seolah ingin mengembalikan mandat kepada orang yang telah mempercayainya.
Beberapa saat kemudian, Sang Kapten terduduk di ruang ganti. Seluruh temannya memandanginya namun tidak ada yang berani menyapanya. Lambat laun ruang ganti menjadi sepi karena satu demi satu orang beranjak pulang. Sang Kapten duduk sendirian. Hanya ada seorang penjaga stadion yang sedang menyapu lantai ruang ganti. Darman, nama penjaga stadion tersebut, adalah seorang pria yang tampaknya sudah berusia lanjut namun masih berbadan tegar. Darman dengan tersenyum memandangi Sang Kapten. Akhirnya, Darman beranjak mendatangi Sang Kapten. ”Halo Pak Kapten.”sapanya. Sang Kapten tersenyum. ”Tidak pulang, mas?” ”Belum pak.”ujar Sang Kapten singkat. ”Bapak sudah lama bekerja di sini?”tanya Sang Kapten mencoba untuk berbasa-basi. Darman menjawab,”Sudah 40 tahun mas, saya bekerja di sini. ”Tidak bosan pak? Nampaknya pekerjaan Bapak membosankan. Tiap hari melakukan hal yang sama bukan?ujar Sang Kapten terheran-heran. ”Bosan?” Darman tersenyum. ”Tidak mas.” ”Pekerjaan ini sudah menghidupi keluarga saya selama bertahun-tahun.” ”Dan karenanya anak saya bisa menjadi dokter sekarang.” Sang Kapten terdiam. Kemudian dia berkata,”Dulu saya juga disuruh menjadi dokter oleh orang tua saya tetapi saya menolak.” ”Sekarang saya hanya ingin menjadi pemain bola yang baik tetapi rupanya itu juga sulit.” Darman berujar,”Baik atau tidak baik terkadang tergantung bagaimana orang melihatnya, nak.” Akhirnya Darman menepuk pundak Sang Kapten dan pergi meninggalkan Sang Kapten yang termenung sendirian.
Dua hari berlalu sejak pertandingan yang kontroversial itu. Saat sore, Sang Kapten duduk di pinggir pantai di kota itu. Dia termenung melihat ke arah air. Di depannya, nampak beberapa pasangan muda-mudi yang sedang berpacaran saling bercanda dan berbicara satu sama lain. Tanpa dinyana, sebuah tangan menepuk pundak Sang Kapten. Ternyata tangan itu adalah tangan Yohan. ”Apa yang sedang kamu lihat?”tanya Yohan. ”Aku sedang melihat pasangan itu”jawab Sang Kapten. ”Aku suka pasangan itu.” ”Lihatlah! Bagaimana indahnya sebuah diskusi.” ”Si Pria mendengarkan si Wanita dengan penuh perhatian dan saat si Wanita selesai bicara barulah si Pria mulai bicara dan si Wanita akan mendengarkan dengan penuh perhatian pula.”Sang Kapten mencoba menerangkan. ”Begitu saja kau tertarik”ujar Yohan dingin. Sang Kapten menoleh,”Kenapa tidak?” ”Pria dan wanita itu tampaknya saling menghargai. ”Tidak ada yang lebih tinggi dan tidak ada yang lebih rendah.” ”Satu dengan yang lain saling ingin belajar tentang pasangannya.” ”Itulah kenapa mereka mau saling mendengarkan.” ”Dari sebuah diskusi itulah akan muncul yang namanya sebuah pengertian” ”Keduanya saling memahami”. Yohan berkata sambil tersenyum,”Aku lebih suka sepasang yang duduk bersama namun tidak sepatah kata pun keluar dari mulut mereka.” ”Keduanya diam namun keduanya mengerti apa yang ada di benak pasangannya.” ”Menurutku itu adalah tingkat sebuah pengertian yang paling dalam” ”Mungkinkah itu?”tanya Sang Kapten. ”Bagaimana mungkin dua orang yang tidak saling berbicara bisa mengerti satu sama lain?”tanya Sang Kapten lagi. Seolah-olah hendak mengalihkan topik pembicaraan, Yohan bertanya,”Berapa gol yang sudah aku cetak musim ini?” Sang Kapten agak bingung dan menjawab datar,”Entahlah, yang jelas cukup banyak.” ”Dan tahukah kamu bahwa kebanyakan adalah hasil umpanmu dan Arief?”tanya Yohan lagi. Sang Kapten diam sesaat. ”Tentu saja kita sudah bermain bersama-sama selama bertahun-tahun.”ujar Sang Kapten. ”Dan karena itulah, di lapangan, kita seolah sudah mengerti satu sama lain.”tambah Yohan. ”Aku tidak pernah berteriak pada kalian untuk memberiku umpan lambung atau umpan datar dan kalian juga tidak pernah berteriak menanyakan ke mana aku akan berlari.” ”Tetapi toh umpan kalian hampir selalu sampai di kakiku”ujar Yohan. ”Itulah maksudku, ketika kita mau belajar untuk mengerti dan kita mau melatihnya terus-menerus maka kita tidak perlu lagi saling bertanya untuk mengetahui maksud teman yang lain.”ujar Yohan lagi. ”Dan sekarang aku dan Arief saling salah mengerti.”jawab Sang Kapten sedih. ”Kesalahan pasti terjadi.”hibur Yohan. ”Tetapi pelajaran untuk saling mengerti tidak akan pernah berakhir.”jawab Yohan. ”Arief hanya kecewa karena engkau tidak mempercayainya.” ”Dia kecewa karena dia merasa bahwa engkau menuduhnya melakukan diving.”ujar Yohan lagi. ”Aku tidak menuduhnya!” bantah Sang Kapten. ”Aku hanya berpikir bahwa wasit mungkin berbuat kesalahan.”ujar Sang Kapten mencoba menerangkan. ”Itulah, kamu salah mengerti tentang Arief dan Arief pun salah mengerti tentang dirimu.”jawab Yohan. ”Terkadang salah pengertian bisa membuat sesuatu menjadi lebih parah ketimbang sekedar gagal ke final.” ”Tetapi itu tadi, pelajaran untuk saling mengerti tidak akan pernah berakhir.”jawab Yohan. ”Dan ban kaptenmu menuntutmu untuk belajar tidak hanya mengerti seorang Arief tetapi juga belajar untuk memahami seluruh pemain di dalam tim.”ujar Yohan sambil meninggalkan Sang Kapten yang masih berpikir sendirian. Dalam hati Sang Kapten merasa malu. Bertahun-tahun lamanya, Sang Kapten merasa bahwa dirinya adalah orang yang selalu mau memahami orang lain. Bahkan ketika Yohan terkucil dari pergaulan di masa kecilnya, dia merasa menjadi satu-satunya orang yang bisa mengerti Yohan. Jabatan Kapten rupanya telah membuat dirinya menjadi pongah dan lupa diri seolah dia adalah yang paling mengerti dari yang lain. Tak dinyana, sekarang justru Yohan yang mengajarinya arti sebuah pengertian. Pengalaman pahit yang dialami Yohan di masa kecilnya ternyata telah membuatnya belajar banyak, lebih banyak dari apa yang dipelajari Sang Kapten. Matahari semakin condong ke barat dan Sang Kapten pun semakin larut dalam ketermenungannya.

Sekrup Abu-Abu Kecil

Di suatu negeri yang jauh dari dunia manusia, hiduplah sekelompok sekrup dan mur.
Satu keluarga di antaranya adalah keluarga sekrup dan mur abu-abu.

Suatu hari sekrup abu-abu besar memanggil anaknya si sekrup abu-abu kecil
Sekrup abu-abu besar berkata,”
”Nak, kamu sudah besar. Sudah waktunya engkau mencari mur untuk dinikahi”
“Menikah itu apa ya pak?” tanya si sekrup abu-abu kecil.

Sekrup abu-abu besar mendesah dan berkata,” Begini nak, menikah artinya mencari pasangan hidupmu dan berkeluarga dengannya.” Hidup ini tidak mungkin sendirian. Sepasang sekrup dan mur akan hidup sebagai satu tim. Yang satu menutupi kelemahan yang lain dan memecahkan masalah hidup bersama-sama.

Tapi bagaimana caranya mencari pasangan hidup, pak? Itu seperti berjudi!
Sekrup Abu-abu kecil kebingungan.
Ayahnya menjawab,”
Begini nak! Memang itu seperti berjudi. Tetapi cara yang paling umum adalah carilah mur yang ukurannya tepat dengan ulirmu.
Sang anak bertanya lagi,”Tapi mengapa ukurannya harus tepat pak?”

Ayahnya menjawab,”Karena kalau ukuran mur yang kaunikahi terlalu kecil maka kalian berdua akan kesakitan.” ”Sebaliknya jika ukuran si mur terlalu longgar, dan manusia menggunakan kalian berdua untuk memasang suatu papan, hubungan kalian berdua akan mudah lepas.” Saat salah satu dari kalian lepas dari yang lain, salah satu akan jatuh ke lantai dan mengerang kesakitan.

Sekrup abu-abu kecil tidak perlu bertanya dua kali. Dia segera berlari meninggalkan ayahnya. Dia pun mencari mur kuningan yang selama ini selalu disukainya. Saat bertemu dengan mur kuningan, sekrup abu-abu kecil bertanya,”Wahai mur kuningan, bolehkan aku memasukkan ulirku ke dalam lubangmu.” Sang mur kuningan tidak paham maksud sekrup abu-abu kecil. Dia hanya mengikuti saja permintaan tersebut. Saat sekrup abu-abu kecil memasukkan ulirnya, sang sekrup abu-abu kecil girang bukan kepalang. Dia menemukan bahwa ukuran ulirnya cocok dengan ukuran mur kuningan, tidak lebih dan tidak kurang. Sang sekrup abu-abu kecil hendak berlari untuk memberitahukan hal tersebut kepada kedua orang tuanya.

Belum sempat sekrup abu-abu kecil beranjak.
Datanglah sekelompok mur.
Ada mur perak, mur tembaga, mur abu-abu dan mur-mur yang lain.
Mereka tampak gembira dan tersenyum-senyum
Mur perak berkata,”Hai mur kuningan, tahukah apa yang baru saja kami lihat.”
”Hari ini sekrup emas baru saja pulang dari kota!”
Mur kuningan terperangah tak percaya,”Apa?? Sekrup Emas yang tampan itu? Aduh dia tampan sekali. Andaikan aku bisa menikah dengannya. Dia sangat tampan dan menyilaukan mata!!

Mendengar itu, sang sekrup abu-abu kecil terdiam. Hatinya merasa kecut dan kecut. Dengan langkah gontai dia meninggalkan mur-mur yang sedang sibuk membicarakan ketampanan sekrup emas.

Sang sekrup abu-abu kecil merasa lemas sekujur tubuhnya. Dia seperti tak sanggup lagi berjalan ke rumah. Matanya kosong. Dia pun berbelok ke arah sebuah kolam dan ingin merenung seharian di sana.

Saat si sekrup abu-abu kecil sedang merenung di sebuah kolam, datanglah seekor katak. Katak itu heran melihat si sekrup abu-abu kecil yang tampak sedih.
Katak bertanya,”Wahai sekrup abu-abu kecil. Ada apa gerangan? Mengapa wajahmu tampak kecut seperti sebuah tomat?”
Sang sekrup abu-abu kecil merasa jengkel atas gangguan si katak tersebut.
”Dasar katak tolol!” Bagaimana mungkin engkau menggunakan kata kecut untuk indera mata. ”Hari ini ayahku menyuruhku untuk mencari mur yang ukurannya cocok denganku untuk kujadikan teman hidup. Aku mencobanya pada mur kuningan dan ternyata ukuran ulir kami berdua cocok. Tetapi tampaknya mur kuningan tidak menyukaiku. Dia lebih tertarik pada sekrup emas yang tampan dan menyilaukan mata.

Katak menjawab,”Oh itu.” “Wahai, sekrup abu-abu kecil.” “Dengarkanlah nasehatku ini!

Ada gelap karena ada terang.
Ada yang miskin maka ada yang kaya.
Ada yang tampan dan ada yang buruk rupa.
Ada yang pandai dan ada pula yang tidak.
Semua diciptakan untuk keseimbangan.

Si sekrup abu-abu kecil kebingungan
“Apa maksudmu?”

Katak menjawab,”Ah dasar, ternyata engkau ini tidak sepandai yang kukira.”
“Begini.” Intinya adalah semua ada untuk keseimbangan.
Ada yang tampan karena ada yang buruk rupa.
Ada murid yang pandai karena ada yang tidak pandai.
Seorang guru tidak dapat membedakan mana murid yang pandai kalau tidak ada murid yang kurang pandai.
Sebuah mur tidak dapat mengenali mana sekrup yang tampan kalau tidak ada sekrup yang buruk rupa.

Sang sekrup abu-abu kecil bertanya,”Bukanlah itu lebih baik.” Tidak akan ada sekrup yang rendah diri hanya karena melihat sekrup lain lebih tampan dan tidak akan ada sekrup yang pandai yang merendahkan sekrup yang bodoh.

Katak menjawab,”Sebenarnya, sekrup yang pandai diciptakan tidaklah untuk menginjak sekrup yang bodoh.” Sekrup yang pandai mestinya membagi kepintarannya untuk membantu temannya yang kurang pandai. Pasti ada suatu kemampuan yang tidak dimiliki oleh sekrup yang pandai tersebut. Nah di sini, sekrup yang memiliki kemampuan tersebut dapat menolong si sekrup yang pandai.

“Lalu apa hubungannya dengan masalahku?” tanya si sekrup abu-abu kecil.
Sang katak menjawab,”Begini nak, menikmati tidaklah harus memegang.” Andaikan ada seorang manusia yang memiliki ikan, dia tidak akan terus-menerus memegang ikan tersebut karena ikan itu akan mati karenanya. Manusia akan memilih untuk meletakkan ikan tersebut dalam akuarium dan melihatnya dari kejauhan.

Sang katak pun meninggalkan si sekrup abu-abu kecil yang masih berpikir keras. Tiba-tiba terlintas suatu pikiran di benak si sekrup abu-abu kecil. Si sekrup abu-abu kecil pun berlari meninggalkan kolam. Dia mencari sekrup emas yang ukurannya sama persis dengan ulirnya. Kemudian dia mengenalkan sekrup emas tersebut kepada mur kuningan yang disukainya. Ternyata, mur kuningan dan sekrup emas itu saling jatuh cinta dan memutuskan untuk menikah.

Saat pernikahan sekrup emas dengan mur kuningan, si sekrup abu-abu kecil hanya melihat dari kejauhan. “Menikmati tidak harus memegang.” Mungkin ini yang dimaksud oleh katak. Sang sekrup abu-abu kecil menatap dengan kosong, perasaannya datar. Dia pun meninggalkan pesta pernikahan itu dengan wajah dingin. Sang katak diam-diam melihat semua itu dari kejauhan. Dia berkata dalam hatinya,”Hidup harus jalan terus teman! Engkau barulah memenangkan sebuah pertarungan. Masih banyak palung yang belum terselami. Suatu saat akan ada hari di mana engkau akan mengerti semua ini.”